Translate

Jumat, 04 November 2016

Seri 9

Pagiku
Author: Mimi

Pagiku menyapa bersama surya
Dingin memeluk pun menyapa
Langkah mengayun menyusuri tangga
Ku buka pintu gerbang dunia

Hati pagi terasa sepi
Kehangatan surya yang tak pernah kutepis
Ditemani dingin yang menyelimuti
Bibir seraya berkembang berseri

Lantunan angin pagi yang sepoi
Bersama bising pikuk dipagi hari
Harapan yang membumbung tinggi
Bersama asa yang tak pernah mati

Doa yang tak segan ku sapa
Pemilik dunia yang bersahaja
Beriringan menatap dunia
Dipeluk dengan selimut doa




Selasa, 01 November 2016

Ceritaku 3

The Way Back to Tokyo
Author : Mimi


Angin malam datang menghempas saat ku di teras menanti kedatangan orang tuaku.
Hari ini berjalan seperti biasa. Hariku sibuk dengan kuliah. Aku kuliah di sebuah universitas ternama di Jakarta.

"Mims", panggil kedua orang tuaku saat mereka tiba.
"Oh", aku tergaket dari lamunanku.
"Ayo masuk gal." kata ibu.

Setelah ayah dan ibu membersihkan diri, kami makan malam bersama. Aku bersyukur memiliki keluarga yang harmonis. Kami selalu mendukung satu sama lain.
Kebiasaan keluarga kami, setelah makan malam kami bercengkrama di ruang keluarga sambil nonton tv. No gadget at that time. That's the rule.

"Yah, Mimi mau ikut daftar untuk beasiswa di Tokyo."
Ayah tersenyum, "ayah sama ibu pasti sangat mendukung, iya kan bu?"

"Tentu saja. Apa kamu sudah mempersiapkan semua persyaratannya? Setahu ibu untuk dapat mendapat beasiswa kesana sangat sulit dan persaingannya juga sangat ketat." kata ibu.
"Iya, aku sudah mempersiapkan semua persyaratannya kok." 
"Kamu siap kalau harus tinggal sendiri di sana? Kamu harus benar-benar mandiri." sambung ayah.
"So pasti yah, gak usah khawatir." aku tersenyum.

2 bulan kemudian.

Setiba di rumah, "yah, bu! Aku berhasil mendapatkan beasiswa di Universtas Tokyo, Jepang", aku berlari masuk ke dalam rumah menghampiri ayah dan ibu yang sedang nonton tv.
Kedua orang tuaku langsung mengucapkan selamat dan memelukku. "Wah ayah sama ibu kesepian nih. Leo udah di London, sekarang kamu yang mau ke Jepang."Ayah sedikit terlihat sedih.

"Jangan bilang seperti itu yah, nanti Mimi jadi nyesel. Itukan juga demi masa depan mereka juga." Ibu menengahi.
"Iya, ibu," ayah tersenyum. "Ayahkan cuma bercanda." Kami semua tertawa.

Di kamar aku terus tersenyum dan mulai berkemas. Aku berangkat satu minggu lagi, Jumat depan.
Saat aku akan tidur, aku mulai membayangkan kembali masa-masa kecilku bersama keluarga. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Aku ingat saat aku dan Leo selalu bermain bersama di kamar mandi sebelum kami mandi. Lalu saat kakakku sampai berkelahi dengan sekumpulan preman yang mencoba menggodaku.

Saat kami sekeluarga berlibur ke Seoul, Korea Selatan sebagai hadiah ulang tahunku. Mereka tahu kalau aku sangat ingin pergi ke sana. Meskipun semuanya telah berlalu, tapi aku tidak akan pernah melupakannya.

Hari keberangkatankupun tiba. Kedua orang tuaku mengantarkanku ke Bandara Soeta. Sambil menunggu waktu boarding kami saling mengucapkan kata-kata perpisahan sementara kami. 

"Hati-hati ya nak. Jaga selalu kesehatan. Kalau sudah sampai segera hubungi ayah atau ibu." Ucap ibu.

"Jangan sampai telat makan. Kalau libur semester kamu harus pulang. Hati-hati dalam bergaul." sambung ayah, "nanti jika ayah dan ibu sempat, kami pasti juga akan menengokmu."

"Iya ayah, ibu. Doakan Mimi ya agar selalu sehat, selalu diberi kemudahan, keselamatan, dan kesuksesan selama di sana," balasku sambil mencium tangan kedua orang tuaku, dan memeluk mereka satu persatu.

***
Kehidupan baru di Tokyo dimulai.

Setiba di apartemenku, aku berbenah. Setelah makan siang, aku akan jalan-jalan. Aku pergi bersama sahabatku yang lebih dulu tinggal di Jepang, Susan. Destinasi pertama kami adalah The Hiroshima Peace Memorial. Di sini, kita bisa membayangkan peristiwa bom Hiroshima yang pernah dipelajari saat sekolah. Tempat ini salah satu destinasi populer di Jepang.

Setelah puas, aku dibawa temanku disalah satu pasar yang paling terkenal di Jepang, The Tsukiji Fish Market. Kalau pernah menonton di tv tentang pelelangan ikan terkenal di Jepang, di sinilah tempatnya. Selain kita bisa melihat berbagai jenis ikan di sekitar pasar juga banyak restauran di sekitarnya. Kami singgah di salah satu restauran sushi. Ini pertama kalinya menikmati sushi asli dari Jepang. Yummy. Rasanya memang beda. Keadaan disini sungguh ramai. Resatauran ini bahkan penuh, sampai tidak menyisakan meja kosong.

"Shitsureishimashita,"
"Hai,"


Tiba-tiba pria tersebut menyenggol lenganku yang akan melahap sushi. Aish. Batinku. Sushiku jatuh mengotori bajuku.

"Sōrī," katanya.
"Hai," balasku. Aku tidak berkata yang lain, aku masih newbie di sini, aku tak ingin ada keributan.

***END***






Seri 8

Mereka

Hujan yang datang tiada henti
Ku menari diantaranya dan saling menyapa
Ku dengarkan tiap tetesan
Tak mampu ku genggam hanya mampu kurasa

Kala hujan berhenti berjalan
Pelangi datang mendekat
Meski hanya satu kerlingan mata
Ia mampu terlukis dalam rasa

Hujan pelangi dan mentari
Pagi siang dan malam hari
Mereka selalu berjalan diatas lingkar kehidupan
Menyapa tiap insan tiada tara