Translate

Jumat, 20 Mei 2016

seri 5

Far and Close
Feels like cliche
Nothing's gonna fear
You make it as peril

I don't wanna touch
I wanna be high
I can't be touched
I touch the sky

Every dream dreamt
Dream means do
Body and soul sweat
Start to be dreamt

Credit: Mimi 150516

Rabu, 18 Mei 2016

Ceritaku 2

Beling
Author: Mimi

Di tengah gelapnya malam, seorang gadis terdiam duduk melamun menatap indahnya angkasa di malam hari. Lamunannya terusik suara hentakan keras pintu lorong sebelah. Ia berdiri menelisik di balik kamar apa yang sesungguhnya terjadi.
Pyaaaarrr..!!! suara itu semakin mengagetkan dan membuatnya sangat tercengang.

“Gelas-gelas kaca rumahku menjadi beling-beling yang menghancurkan hati, pikiran, dan jiwaku.” Batin gadis itu.

Gadis itu menangis dalam kamarnya. Ia mencoba untuk tabah menghadapi badai yang seketika terjadi begitu saja. Ya, itu adalah pertikaian kedua orang tua gadis itu untuk pertama kalinya. Entah apa yang terjadi sebenarnya si gadis hanya menangis ditemani suara isakan tangisnya sendiri. Langitpun seketika mendung dan hujan seperti hati dan dirinya yang sedih dan menangis.

Gadis itu adalah Aku. Aku adalah Mita gadis 17 tahun yang sebelum malam ini ada adalah gadis periang seperti teman sebayaku lainnya.

“Kau dulu yang mulai,”
“Bukan aku, tapi kau!”
“Jangan percaya omongan orang.”
“Bagaimana aku bisa percaya, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.”
“Aku mohon percayalah pada Ibu, Ayah.”
“Sudahlah. Sudah berapa kali ibu membohongi ayah?”
“Ibu mohon yah,”
“Dasar wanita j****g!”

Kedua orang tuaku saling beradu kata yang sungguh tak mengenakkan. Aku tak tahu apa yang yang harus aku lakukan, aku bingung siapa yang benar antara keduanya. Aku perlahan memberanikan diri melangkahkan kaki dan tanganku coba meraih gagang pintu di depanku.

Hiks hiks hiks, huaaa.....

Tangisanku semakin pecah saat aku melangkahkan kakiku di mana orang tuaku berada. Mereka sesaat terdiam, menyadari kehadiranku. Tapi mereka tak menyadari yang terjadi padaku karena mereka. Keduanya mencoba mendekatiku, aku menolak.

“Sayang maafkan kami, kami tidak bermaksud menyakitimu.” Ibu nampak khawatir padaku.
“Sudahlah bu, biar ayah yang menjelaskan.” kata ayah.
“Baiklah,”

Mereka berusaha tenang dan mencoba meredam emosi masing-masing. Ayah mulai memberi penjelasan.

“Mita anak ayah, maafkan ayah dan ibu jika kejadian ini mengagetkanmu.......,” ayah terdiam sejenak, ia mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu padaku.
“Ini adalah alasan ayah dan ibumu bertengkar.” lanjut ayah.

Ibu berlari menghampiriku dan duduk berlutut padaku. Aku hanya diam.
“Nak ibu bisa menjelaskan semuanya, ibu .....” ibu coba bicara padaku.
“Cukup!” aku semakin tidak bisa mengendalikan amarahku. Aku pinta ayahku untuk menjelaskan.

“Meskipun ayah tahu kamu adalah gadis kecil malaikat ayah, tapi ayah yakin kamu tahu persis apa foto ini. Ayah marah pada ibu bukan tanpa alasan. Sebenarnya satu tahun belakangan ini, ayah sedikit curiga pada ibu tapi ayah berusaha untuk diam dan tenang. Hingga pagi ini ayah mendapati foto ini di ponsel ibu saat ayah ingin mencari foto lama kita yang tersimpan di hp ibu.”

Foto itu adalah foto ibuku bersama para pria yang entah akupun tak tahu. Tak hanya satu dua tiga tapi lebih dari itu. Foto itu sesungguhnya tak layak aku lihat. Aku bertanya-tanya kenapa ibuku sanggup melakukannya. Kupikir ayah sudah memberi segalanya lebih dari cukup. Keluarga kami juga merupakan keluarga terpandang di daerah tempat tinggal kami.

“Maafkan ibu nak, ibu tidak akan mencari pembenaran atas perbuatan ibu. Satu alasan ibu bahwa ini bentuk rasa lelah ibu terhadap ayahmu yang juga tidak berbeda dari ibu, lihatlah ini,” ibu menjelaskan.

Ayah tercengang, “Bagaimana ibu tahu?”, batin ayah.
“Sudahlah yah, ayah tidak perlu berbohong pada ibu. Ibu menyadari ini belum lama setelah kita menikah. Apa ayah tahu bagaimana perasaan ibu?”

Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi. Aku coba untuk memahami alasan ibuku. Akupun coba memahami perasaan ayahku. Tapi aku tetap tidak bisa.

Gelap semua yang ada di hadapanku, tiba-tiba menjadi gelap.

“Mita... Mita... Mita...” ucap ayah ibu bersamaan.

Mereka melihat darah sudah mengalir deras dari telapak kakiku.

“Bangun nak,”
“Sayang ayo bangunlah.” Ucap ayah ibu bergantian.
“Mitaaa....!” teriak ibu, ayah menunduk lesu.

Ayah ibuku hanya mampu menyesali apa yang terjadi. Meskipun mereka menyesal, keadaan hari ini telah terjadi. 


Credit     : Mimi

Senin, 16 Mei 2016

Ceritaku 1

Sungguh aku berpikir sebenarnya apa yang aku inginkan. Hidup dalam dunia yang fana ini, aku sadar jika aku tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan segalanya. Hidup dalam kemunafikan bukanlah yang aku inginkan. Tapi apa daya disaat hati melemah dan jiwa mulai goyah, tindakan dan keinginan hati sungguh berbeda.

"Mimi lakukanlah ini."
"Tidak, aku tidak ingin."
"Percayalah ini yang terbaik."

Kanan dan kiri, dua pilihan yang tak bisa aku ingkari. Saat kanan dan kiri tak seiring sejalan, hidup ini tak akan seimbang bagai burung yang melayang dengan satu kepakan sayap.

Titik
Titik
Titik
         Koma
               Koma

                      Koma
               Koma
        Koma 
Titik
Titik
Titik

Diawali dengan sebuah kepastian hidup, disela ketidakpastian akan penyelesaian dan penyesalan, akan berakhir bersama keagunganNya. Menjalankan amanat jiwa dan bertanggung jawab pada yang Kuasa. Itulah hakikat hidup pada kehidupan.

Author & Credit  : Mimi/160516

Minggu, 15 Mei 2016

seri 4

Saat bulan menatap dunia
Aku terduduk tersorot sirat rembulan
Desiran udara memanja sepanjang lengan
Mata terdiam terpejam, terlintas seberkas bayangan

Wahai dunia yang tak pernah terpejam
Kerdil-kerdil mengangggapmu kejam
Sungguh mereka tak sanggup diam
Ahli bak seorang awam
credit by mimi 150516

seri 3

Saat kepala berpeluh
Ekor tak mampu mengayuh
Balok-balok kapas baja
Mendayung menenggelamkan lengan

When the head sweats
Tail couldn't pedal
Cotton steel beams
Rowing drown the arm

때 땀의 머리
꼬리는 페달을 할 수 없습니다
코튼 강철 빔
노 을 빠져 팔
credit by mimi 150516

Sabtu, 14 Mei 2016

seri 2

Satu dan sepuluh
Dua insan yang tak tersentuh
Butiran-butiran debu yang tak mampu ku rengkuh
Menjauh hingga kering melanda peluh


Author : Mimi

seri 1

Back after 5 years long.

Dunia dan udara
di ambang batas fana
Sela langit berisikan dunia
yang terjamah anak adam dan hawa


credit by mimi 140516